Kamis, 23 Juni 2011

Gresik - Gerwarasi yang berarti “tempatku beristirahat”




Gresik adalah sebuah kota yang makmur dan merupakan kota pelabuhan. Bahkan sebelum berdirinya kerajaan Majapahit, Gresik sudah menjalin hubungan perdagangan dengan Maluku yang dijalankan oleh para pedagang Arab. Hal tersebut menandakan bahwa kota Gresik telah lama menjadi kota perdagangan, bukan hanya perdagangan skala nasional, namun juga telah mendunia yang ditandai dengan banyaknya pedagang dari Arab dan Kamboja yang melakukan perjalanan muhibah berdagang hingga ke Gresik.

Usaha perdagangan kota Gresik ternyata masih tetap bergulir hingga kini, bahkan semakin pesat sejurus dengan pesatnya usaha modernitas yang terjadi. Cepatnya usaha perdagangan juga membuat usaha di bidang lainnya bermunculan, tidak terkecuali bidang industri.


Sejak berpisah dengan Surabaya dan menjadi kabupaten tersendiri pada tahun 1974, pemerintah kabupaten Gresik langsung berbenah dengan menyusun program pembangunannya, tidak ketinggalan pembangunan industri. Di kota Gresik, kini telah berdiri ratusan industri, baik skala kecil maupun besar.

Sebagai konsekuensi dari pesatnya pertumbuhan insdustri, lingkungan mengalami degradasi kualitas. Di sana sini terjadi penumpukan limbah berbahaya, tanah yang dahulunya sangat subur kini menjadi tidak produktif, kondisi perairan yang dahulu masih berlimpah hasil dan bagus kini menjadi terbatas dan tidak layak dimanfaatkan oleh manusia secara langsung tanpa pengolahan terlebih dahulu. Begitu juga dengan kondisi udara yang semaakin menurun kualitasnya.


Konsekuensi kemerosotan kualitas lingkungan tersebut juga menimpa kota Gresik sebagai kota industri. Dimana-mana terjadi kerusakan lingkungan yang tidak dapat dianggap enteng, mulai dari kerusakan ekosistem hutan yang semakin gundul dan mengecil luasannya, perbukitan yang habis diambil material batuan kapurnya, pembabatan hutan mangrove besar-besaran, pembuangan limbah cair ke sungai dan laut, belum lagi masyarakat yang terpaksa harus menghisap racun dari bahan limbah gas.


Konsekuensi lain dari pesatnya perkembangan industri di Gresik adalah pengaruh terhadap perubahan tata nilai dan tingkah laku masyarakat di sekitarnya. Karena perkembangan industri juga pasti membawa perubahan dalam bidang teknologi, termasuk juga teknologi komunikasi. Maka, masyarakat semakin diuntungkan oleh perkembangan teknologi komunikasi itu sendiri.


Dahulu masyarakat menerima informasi secara pasif yang berarti masyarakat tidak dapat memilih berita atau informasi sesuai keinginannya karenadahulu sumber informasi hanya terbatas pada radio, TV dan koran. Masyarakat menerima informasi apa adanya sebatas apa yang disajikan oleh si empunya sumber informasi. Masyarakat menerima informasi suatu kejadian tidak pada waktunya, terbatas dan tidak akurat. Masyaraka dididik untuk bersabar dalam mencari berita dan informasi, tidak jarang kejadian di hari sabtu barus bisa dinikmati pada hari senin karena pekerja di industri media sedang libur di hari minggu atau si tukang loper koran terlambat mengantar koran gara-gara ban sepeda anginnya bocor.


Namun, saat ini masyarakat di Gresik tidak perlu bersabar lagi hanya untuk mencari berita dan informasi secara akurat, aktual dan tidak terbatas. Masyarakat kini dimanjakan dengan teknologi internet, masyarakat juga dengan leluasa dapat menikmati informasi yang tak terbatas, sehingga masyarakat dibiasakan untuk mendapatkan sesuatu sebanyak-banyaknya, tidak apa adanya seperti dahulu. Dengan teknologi ini memungkinkan semua informasi itu didapatkan oleh masyarakat, bahkan untuk mendapatkan informasi apapun, masyarakat tidak perlu beranjak dari meja kerja ataupun tidak perlu beranjak ke bang Imin si agen koran.


Kenikmatan mendapatkan informasi secara luas tidak terbatas dan bebas, membuat masyarakat Gresik mendapatkan informasi apapun, baik itu informasi positif maupun negatif. Informasi positif memberikan wawasan ilmu, kejadian-kejadian terkini serta info kemajuan ilmu pengetahuan. Informasi-informasi positif tersebut sangat berguna dan bermanfaat bagi kemajuan bermasyarakat.


Informasi positif dapat mempengaruhi tingkah pola kehidupan masyarakat Gresik. dalam menghadapi sesuatu, mereka tidak lagi berasumsi pada alasan yang tidak berdasar ilmu dan logika, misalnya apabila ada beberapa dari mereka terkena penyakit, maka mereka tidak lagi pergi ke dukun karena mereka sudah tidak beranggapan penyakit mereka karena teluh ataupun nujum. Tapi, mereka segera banyak ke pusat laporan kesehatan untuk memeriksakannya. Begitu pula ketika salah satu dari mereka gagal bernegosisasi dengan rekanan bisnis, mereka sudah tidak lagi beranggapan bahwa negosiasi gagal gara-gara mereka lupa membawa kalung jimat pemberian mendiang kakek buyut mereka.


Tidak dapat ditampik lagi, kalau ada nilai positif maka selalu dibayangi nilai negatif, begitu juga dengan akibat negatif dari pesatnya teknologi informasi, hal-hal negatif yang terbawa di arus informasi juga menyerang masyarakat Gresik. Nilai norma dan tingkah pola negatif yang berada di belahan dunia kebaratan juga menjadi konsumsi masyarakat Gresik.


Perilaku yang serba lain dengan dunia santri dan kesopanan kota Gresik kini sudah menjadi trend dan kemakmuran bagi sebagian masyarakat Gresik, tata busana yang serba minim telah menggeser kesopanan busana lengkap yang menutup anggota badan. Konsumerisme semakin menjadi trend saat produsen mengeluarkan produk baru. Informasi produk dengan embel-embel keunggulannya segera tersebar ke pelosok kota hingga ke desa-desa terpencil, tak ayal lagi warga Gresik segera menyerbu pusat perbelanjaan untuk membelinya, meskipun beberapa warga tidak memerlukan produk tersebut. Alih-alih mereka membeli hanya agar tidak dicap ketinggalan mode dan trend.


Pengaruh negatif tidak terbatas pada hal tersebut di atas. Penyimpangan prilaku lainnya akibat derasnya arus informasi juga sudah terjadi di kota Gresik ini. Alih-alih mengikuti perkembangan informasi, malah masyarakat terjebak pada hal-hal yang merusak dan merugikan.


Seberapa besarkah proporsi dampak positif dan negatif perkembangan industri di kota Gresik hingga saat ini?. Menurut Babad Hing Gresik, nama Gresik berasal dari kata Gerwarasi yang berarti “tempatku beristirahat”. Apakah makna tersebut masih dapat dipertahankan hingga kini atau bahkan hingga masa depan. Masih layakkah kota Gresik digunakan sebagai kota untuk beristirahat sebagaimana arti Gresik di sejarah Babad Hing Gresik, “Gerwarasi” yang berarti tempatku beristirahat?, ataukah sudah jauh di bawah nilai layak suatu kota yang dapat digunakan masyarakatnya untuk beristirahat menghilangkan lelah setelah seharian bekerja agar esok dapat meraih impian hidup yang lebih berharga.


Jawaban demi jawaban tentunya tergantung pada tiap individu masyarakat kota Gresik, bagaimanakah cara kita menyikapi perkembangan kota Gresik tercinta ini. Tentunya sikap optimis dan konsisten pada tata nilai kesopanan, ketimuran serta berketuhanan harus tetap melekat saat mengahadapi dampak perkembangan kota kita ini, agar cita-cita setiap warga dapat hidup di Gerwarasi yang berhias iman dapat tercipta dan terpelihar dengan baik.