Selasa, 12 Mei 2009

Rasa Penasaran


Kebodohan sering diidentikan dengan dosa; tidak menyakitkan atau menimbulkan benjol tapi bisa berakibat fatal di kemudian hari. Karenanya tak heran jika kita kerap kali membuat kebodohan karena tidak ada dampak langsung yang dirasakan, setidaknya bagi diri sendiri. Sungguh memalukan sebenarnya.

Di antara sekian kebodohan di muka bumi banyak disebabkan oleh faktor yang bisa mengandung dampak mematikan: rasa penasaran. Seekor kucing yang penasaran bisa saja mati karenanya, tapi bersyukurlah karena ia punya 9 nyawa. Lain halnya dengan manusia, memiliki hayat tunggal yang dikandung badan harusnya membuat manusia berpikir dua kali sebelum memuaskan ego keingintahuannya.

Ibarat berkendara, rasa penasaran sama halnya dengan bahan bakar. Sebagian besar menggunakan premium, yang punya duit lebih bisa memilih pertamax, kendaraan bermesin diesel hanya bisa menengguk solar, dan motor yang sering keluar-masuk bengkel sering dijustifikasi sebagai konsumen bensin oplosan. Ada beberapa pilihan bagi setiap orang: ada yang cocok, ada yang tidak; ada yang bawa manfaat, ada yang bawa mudarat. Para calon penasar tinggal menakar pertimbangan 5W+1H saja sebelum menggunakan.

Pejabat kita mungkin dulunya adalah voter oportunis yang berharap daerahnya ikut kelimpahan politik uang menjelang pemilu sambil mengusung slogan, “Ambil dulu uangnya, milihnya sih urusan belakangan!” Ketika mantan konstituen bayaran itu duduk di kursi pemerintahan habit lamanya belum tentu otomatis hilang. Ia masih memungkinkan mengulang lagi kenangan masa lalunya, pastinya dalam status dan nominal yang lebih besar.

Ah terima doang kan gapapa, lagipula tanpa disuap pun keputusan saya sudah sejalan dengan maunya orang itu. Lumayan, siapa tau gak ketauan. Pikirnya saat itu.

Sementara para pesulap angka pun setali tiga uang. Masa’ sih ganti jumlah gede dalam anggaran sebegitu mudahnya. Kalo gitu gue juga mau. Nyoba ah!

Sekarang hanya tinggal menunggu waktu saja sampai akhirnya ada rekan sesama pelaku korupsi dan penerima uang pelicin yang berkicau merdu menyenandungkan namanya, lalu mengenakan seragam KPK atau terbaring di rumah sakit karena mendadak sakit.

Jadi berhati-hatilah, rasa penasaran yang dieksekusi secara salah bisa menyebabkan kita berada dalam posisi yang tidak bisa dibenarkan. Namun saat ini terjadi, hadapi sajalah. Akui status bersalah yang dituduhkan. Terima semua konsekuensinya dan tidak usah bersembunyi di balik “khilaf” –pembenaran yang diamini sejuta umat itu. Jabatan sebagai pesakitan perkara tidak membuat kita punya keistimewaan untuk memilih. Telan saja ketukan palu terakhir yang ditujukan langsung ke muka kita tanpa mengutuk, “Saya telah dizhalimi!”.

Tidak usah pula repot-repot menyalahkan godaan setan yang berbisik di telinga kita. Mengkambinghitamkan setan memang perkara mudah. Wujudnya yang tak tampak dan keberadaannya yang diakui secara tak langsung ketika meyakini oposannya membuat kita mudah sekali mencatut namanya sebagai dalih atas dampak rasa penasaran. Kasihan sekali, padahal sebelumnya mereka adalah komoditas yang sudah terlalu sering diperkosa sineas lokal.

Memiliki rasa ingin tahu adalah bagian dari kemanusiaan. Wajar jika manusia senantiasa resah juga cemas akan segala sesuatu yang belum pernah diketahuinya. Ketidakwajaran dimulai ketika akibat dari rasa penasaran tersebut adalah tersakitinya orang lain di sekitarnya, khususnya orang yang –ironisnya– ia cintai. Boys, trust me on this one: syahwat kita tidak pernah kerasukan setan horny!

Dalam kondisi seperti ini pun, kejujuran masih jadi kebijakan yang terbaik dan menerima dengan lapang dada segala keputusan yang ditetapkan adalah ganjaran yang paling layak. Akui saja kecenderungan kita untuk berbuat salah tersebut dan hadapi akibatnya, apalagi jika sebelumnya rasa penasaran kita justru mendorong lahirnya dusta menyakitkan yang menisbikan segala jejak rekam kita.

0 komentar:

Posting Komentar