Kamis, 07 Mei 2009

Sindrom Positif


Sindrom adalah sebutan untuk sebuah kelainan yang telah menyebar ke seluruh tubuh sehingga sulit untuk disembuhkan. Bermula dari sesuatu yang kecil dan dianggap sepele, akan tetapi membesar dengan cepat sehingga sangat sulit untuk disembuhkan. Begitulah seseorang yang terjangkit sindrom, tidak tahu kapan mulai terjangkit dan begitu sadar telah terjangkit, semuanya sudah terlambat. Begitu sulit bahkan sangat sulit untuk sembuh.

Saya pernah berpikir ternyata tidak hanya hanya penyakit saja yang tidak bisa disembuhkan. Ada hal lain yang ternyata sulit untuk “disembuhkan” yaitu kebiasaan. Kebiasaan ibarat sebuah racun yang menyebar ke seluruh tubuh tanpa kita tahu bahwa kita telah terjangkit, merangsang seluruh persendian tanpa terkecuali, dan akhirnya kita menganggap bahwa racun tersebut adalah bagian dari tubuh kita.

Saya punya sebuah kebiasaan yaitu mencuci muka setiap kali pergi ke toilet. Saya tidak tahu sejak kapan saya mulai terbiasa melakukan hal tersebut dan bahkan mungkin saya telah beribu kali melakukan hal tersebut karena yang ada di pikiran saya setiap kali ke toilet adalah mencuci muka sebelum meninggalkan toilet. Kini saya menyadari bahwa mencuci muka setiap kali ke toilet adalah kebiasaan saya karena saya selalu merasa ada yang kurang dan bahkan merasa tidak pergi ke toilet apabila saya tidak mencuci muka sebelum meninggalkan toilet. Aneh, tapi begitulah perasaan saya ketika menyadari apa yang telah terjadi dan sulit bagi saya untuk lepas dari kebiasaan itu.

Suatu ketika, saya pernah menggunakan sarana toilet yang ada pada sebuah mall. Sebelum meninggalkan toilet, saya mencari wastafel yang umumnya selalu tersedia di setiap toilet. Saya memutar keran dan seketika itu saya langsung kecewa karena ternyata air nya mati dan saya juga tidak bisa mencuci muka apabila tidak ada air. Saya keluar dari toilet dan syukurlah saya ketemu dengan seorang petugas kebersihan. Saya kemudian menanyakan masalah air mati tersebut dan petugas tersebut menjelaskan bahwa saat itu terjadi pemadaman listrik sehingga jatah listrik untuk penyediaan air ditiadakan agar memiliki cadangan listrik yang cukup. Saya kesal dengan pernyataan petugas tersebut sehingga saya memberikan sindiran yang pedas dan langsung meninggalkan mall tersebut.

Saya percaya bahwa kebiasaan belum tentu sesuatu yang buruk. Kalau Anda membaca pengalaman saya di atas, Anda mungkin akan merasa bahwa kebiasaan saya adalah sesuatu yang buruk. Akan tetapi ada juga yang menyatakan bahwa itu bukanlah sesuatu yang buruk. Nah, itu tergantung Anda untuk menyikapinya. Ketika berusaha untuk mengubahnya, saya merasa kesulitan dan muncul berjuta pertimbangan dalam diri saya.

Apa saya melakukan hal yang salah sehingga saya harus mengubahnya? Apa orang lain terkena dampak yang negatif dari kebiasaan saya tersebut? Dan ketika menyadari bahwa jawaban dari keduanya adalah “tidak”, maka saya mengurungkan niat untuk merubah kebiasaan tersebut. Wajah saya memang berminyak sehingga saya merasa fresh ketika mencuci muka setiap kali ke toilet. Walaupun begitu, saya yakin tidak akan mati di tempat atau langsung sakit apabila saya mengubah kebiasaan saya.

Saat ini saya sedang berada di perantauan dan oleh sebab itu saya selalu diingatkan untuk tidak mudah percaya kepada orang lain karena sekarang ini banyak orang yang pertamanya berbuat baik akan tetapi setelah dilihat kita mulai percaya, barulah dia beraksi. Sebenarnya saya merasa pesan ini sangat berlebihan karena saya yakin tidak semua orang yang baru kita kenal dan berbuat baik adalah penjahat dan mengapa kita malah mencurigai orang yang berbuat baik kepada kita. Salahkah bila orang berbuat baik?

Seseorang teman saya pernah bercerita bahwa dia menjadi korban dari sikap yang tidak mempercayai orang yang baru dikenal ketika sedang naik bus. Saat bus sedang berada di perempatan jalan, dia melihat seorang Ibu yang sudah tua naik bus yang ditumpanginya. Melihat penampilan Ibu tersebut, teman saya langsung memberikan tempat duduknya kepada Ibu itu. Ternyata yang diterima teman saya tersebut bukanlah ucapan terima kasih. Ibu tersebut malah bersikap was-was terhadap teman saya. Selama perjalanan dia memegang erat tas nya sesekali melirik dengan penuh ketakutan ke arah teman saya. Ketika teman saya tersebut menceritakan hal ini kepada saya, saya hanya tertawa mendengarnya. Padahal dilihat dari tampangnya, teman saya ini tidak kelihatan seperti preman dan tergolong orang yang pendek dan juga kurus, jadi hal yang lucu jika ada orang yang takut padanya. Walaupun begitu, kejadian tersebut sangat memprihatinkan bagi saya karena reaksi teman saya setelah mengalami hal tersebut. Dia mengatakan bahwa tidak akan berbuat baik lagi terhadap orang yang baru dikenalnya. Dia mengatakan, “Apa gunanya kita berbuat baik kalau kita malah dicurigai” dan perkataannya ini membuat saya terdiam. Saya tidak bisa menyalahkannya atas kejadian ini. Saya juga tidak bisa menyalahkan Ibu tersebut. Sedih sekali hanya gara-gara seseorang saja, pandangan teman saya berubah. Padahal jika sekali lagi kalau teman saya berbuat baik, belum tentu akan mengalami respon seperti itu. Saya menyadari bahwa ini adalah pengaruh dari kebiasaan yang begitu waspada ketika ada orang yang baru dikenal berbuat baik.

Kalau kita perhatikan, kelakuan masyarakat terhadap lingkungannya ternyata adalah sebuah pola sebab-akibat. Si ibu yang takut akan orang yang dikenalnya mungkin pernah ditipu oleh orang yang baru saja dikenalnya. Begitu juga teman saya tersebut, dia telah memberikan ultimatum terhadap dirinya untuk tidak pernah lagi menolong orang yang baru dikenalnya karena sakit hati melihat perlakuan orang yang ditolongnya. Pola seperti ini saya yakin akhirnya bisa saja menyebar ke semua orang tanpa terkecuali dan perlu kita sadari, secara tidak langsung kita telah terjangkit sindrom karena pola ini akhirnya menjadi sebuah kebiasaan. Lebih ironis lagi karena ini bukan saja kebiasaan individu tapi sudah menjadi kebiasaan public. Jadi apa yang harus kita lakukan untuk merubah semuanya? Saya yakin ini adalah pertanyaan yang sangat sulit untuk dijawab.

Mungkin kita pernah belajar mengenai kutub positif dan kutub negatif. Kutub positif dan kutub negatif selalu tarik-menarik. Ternyata proses tarik-menarik antara dua kutub dipengaruhi oleh sifat magnetik. Jika sifat magnetik kutub positif lebih besar dibanding kutub negatif, maka kutub positif akan menarik kutub negatif, begitu juga sebaliknya. Pertanyaannya adalah hal apa saja yang dapat meningkatkan sifat magnetik sebuah kutub? Sifat magnetik sebuah kutub akan semakin meningkat jika sebuah kutub semakin besar. Perihal tentang kutub tersebut dapat kita jadikan pembelajaran mengenai masalah sindrom. Sama seperti kutub positif dan negatif, sindrom juga ada yang positif dan negatif. Hal-hal yang telah dijabarkan sebelumnya, menurut saya dikategorisasikan ke dalam sindrom negatif. Lalu apakah ada sindrom yang positif karena berkaca dari pengertian mengenai sindrom terkandung makna yang negatif.
Dalam kehidupan bermasyarakat, kita saling membutuhkan antara satu dengan yang lainnya. Tidak ada yang bisa hidup sendiri tanpa membutuhkan pertolongan orang lain.

Oleh sebab itu, sewajibnya kita saling menghargai antara satu dengan yang lainnya. Namun, apakah kita telah mewujudkan sikap saling menghargai dalam kehidupan kita? Jangankan dalam perkara yang besar, dalam perkara kecil saja kita jarang saling-menghargai antara satu dengan yang lain. Ketika orang lain membantu kita, apakah kita selalu mengucap terimakasih atau tersenyum sebagai pertanda rasa terimakasih kita? Sebenarnya mengucap terimakasih bukanlah perkara yang besar. Itu hanya perkara yang kecil tapi terkadang perkara yang kecil tersebut tidak menarik untuk kita lakukan. Kita malah memikirkan perkara yang lebih besar, seperti memikirkan apa yang harus kita berikan sebagai pertanda terimakasih.
Saatnya kita untuk berubah. Mari mulai sekarang kita membiasakan diri untuk melakukan sindrom yang positif agar sifat magnetik sindrom positif dalam kita lebih tinggi dari sindrom negatif. Mungkin dengan mengucapkan terimakasih kepada petugas jalan tol ketika membayar jasa penggunaan jalan tol, kepada orang orangtua atau pun saudara kita atas bantuan mereka, kepada tukang ojek, tukang becak, kernek bus, atau kepada siapa pun yang telah membantu kita. Seringkali ucapan terima kasih hanya kita berikan kepada orang yang pantas menurut kita yang secara tidak langsung menciptakan kasta-kasta di dalam pikiran kita. Ini sebaiknya yang harus kita hindari. Seperti yang saya katakan tadi, kita saling membutuhkan satu dengan yang lainnya. Kita ini sama derajatnya, tidak ada sebelumnya yang lebih tinggi derajatnya dibanding pekerjaan lainnya, tidak ada manusia yang lebih tinggi derajatnya dibanding manusia lainnya, yang berbeda hanya tugasnya saja. Antara pekerjaan yang satu dengan pekerjaan lainnya yang berbeda hanya tugas yang harus dilakukan oleh pemilik pekerjaan tersebut. Untuk itulah, sebaiknya jangan pernah untuk mengkastakan rasa terima kasih kita. Selain dengan mengucapkan terima kasih, kita juga dapat menunjukkan rasa kepedulian kita dengan membalas senyuman orang lain, tidak mengindahkan pertanyaan yang ditujukan kepada kita, bersikap jujur dan berkata jujur, dan lain sebagainya yang Anda dapat tambahkan sendiri.
Jadi, mulailah saat ini. Mulailah untuk melakukan sindrom yang positif. Mulailah untuk menanamkan sindrom positif di dalam benak kita, di dalam persendian kita, bahkan di dalam jiwa kita, karena sindrom bersifat menyebar, menjangkiti tanpa terkecuali, dan akhirnya meluas tanpa kita sadari. Begitulah nantinya ketika kita memulai untuk melakukan sindrom postif pada diri kita sendiri, tanpa kita sadari akhirnya menyebar kepada orang lain, dan akhirnya dapat meluas kepada semua orang yang ada di bumi ini. Kelihatan mustahil bukan? Tapi percaya lah, sesautu yang mustahil akan mustahil jika kita tidak mencoba melakukannya. Jadi jangan tunggu apalagi untuk memulainya.

0 komentar:

Posting Komentar